CERPEN DEBAT ANGKRING
Cerpen
DEBAT ANGKRING
Oleh: Deni Junaedi
(Dimuat dalam buletin seni rupa Makna, No.: 6, Edisi: April 2005, hal. 9 -10)
(Dimuat dalam buletin seni rupa Makna, No.: 6, Edisi: April 2005, hal. 9 -10)
Pasti Sang Seniman! Dengan tergesa ia mengayuh sepeda menuju angkringan pinggir jalan, hujan malam mulai turun. Jaket kumalnya yang penuh emblem agak basah, rambut gimbalnya semakin tidak teratur. Namun ia tetap nyaman, merasa itu ekspresi visual pada tubuh.
“Wedang kopi Pak,” katanya setelah duduk di angkringan sepi itu, tidak ada pembeli lain.
“Dari mana Mas?” sapa Penjual Angkringan setelah selesai menghidangkan kopi manis.
“Biasa... nonton pameran,” jawab Sang Seniman bangga.
“Pameran apa?”
“Lukisan, drawing, dan sketsa.”
Penjual Angkringan tersenyum, “Apa beda lukisan, drawing, dan sketsa?”
“Jelas beda Pak! kalau Sampean belajar seni rupa pasti bisa membedakan. Lukisan itu menggunakan intensitas warna yang kompleks, drawing memanfaatkan arsiran, sedang sketsa hanya menggunakan garis,” Sang Seniman menerangkan.
Penjual Angkringan yang sudah menginjak umur enam puluh tahun itu tetap tersenyun polos, dan senyum polos itu diartikan kebloonan oleh Sang Seniman. Ia bertanya lagi, “Bukankah sama saja antara ketiganya? Lukisan, drawing, dan sketsa itu menurut saya hanya gaya lukisan?”
“Bodoh!” batin Sang Seniman, lalu katanya, “Salah Pak, gaya itu seperti realisme, naturalisme, kubisme, impresionisme, atau surealisme.”
“Itu kan gaya menurut klasifikasi sejarah yang ada di barat. Isme-isme itu sendiri sebenarnya bukan gaya tapi aliran. Kalau gaya hanya bentuk luar visual karya seni sedang aliran lebih pada konsep pemikiran yang diyakini senimannya.”
“Maksud Sampean?” Seniman itu mulai tercengang.
Penjual Angkring diam sejenak, batuk-batuk, lalu menjawab “Misalnya Gustave Caubert adalah penganut aliran realisme yang berkeyakinan bahwa ia ingin menciptakan hasil seni yang nyata, menggambarkan apa-apa yang betul-betul riel apa adanya. Kaum Realis menolak bentuk seni neo-klasikisme yang dianggap terlalu penuh dengan perhitungan dan juga tidak sependapat dengan aliran romantikisme yang terlalu mengagungkan rasa. Ia bersemboyan show me an angel and I will paint one. Sedangkan Dullah itu bergaya realistik karena hanya menggunakan unsur-unsur visual aliran realisme.”
Sang Seniman mulai hati-hati, dan bertanya dalam hati siapa sebenarnya orang ini. Ia masih penasaran dengan masalah pertama, “Lalu kenapa Sampean mengatakan antara lukisan, drawing, dan sketsa sama saja?”
“Bukan sama saja,” tukas Penjual Angkringan sambil beringsut karena kursi yang diduduki mulai basah, “Klasifikasi gaya yang paling populer yaitu berdasarkan sejarah yang terjadi di dunia Barat. Namun gaya juga bisa diklasifikasikan berdasarkan ekspresi yang dimunculkan seniman, sebagaimana yang dijabarkan oleh Feldman. Klasifikasi gaya lainnya berdasarkan persepsi penonton, ini diterangkan oleh Heinrich Wolffin. Lalu gaya juga bisa dibedakan menurut daerah, contohnya gaya Sukaraja untuk menunjukkan lukisan landscape dengan warna-warna cerah yang biasanya dibuat oleh penduduk Sukaraja.” Penjual Angkring berhenti sejenak, menyalakan rokok kretek, “Jika lukisan dapat diklasifikasikan berdasarkan sejarah, wilayah, ekspresi, maupun persepsi, maka semestinya juga bisa diklasifikasikan berdasarkan unsur visual yang dipilih seniman. Dengan demikian maka lukisan, drawing, dan sketsa merupakan gaya lukisan berdasarkan unsur visual yang dipakai pelukis. Sayang istilah ‘lukisan’ digunakan untuk menyebut lukisan, hingga membuat kesan bahwa drawing dan sketsa bukan lukisan.”
Tentu pipi Sang Seniman terlihat memerah jika ia tidak berkulit sawo matang dan tidak di bawah lampu tempel, “Ah... tidak peduli itu gaya atau aliran, tidak peduli lukisan, drawing, atau sketsa... yang penting karyanya bagus-bagus.”
“Bagus-bagus?” Penjual Angkring itu masih bernada datar, “Bagaimana karya itu dibilang bagus?”
“Bagus dan tidak itu kan subyektif”, cepat Sang Seniman menimpali.
“Bagaimana kalau alasan subyektif itu hanya sebagai kedok alasan karya-karya yang secara elementer tidak mencapai standart?”
“Ya terserah penonton,” Sang Seniman mulai dongkol, ia membuka nasi kucing dan menyantap cakar ayam.
“Kata Iqbal,” sahut Penjual Angkring, “Untuk memperoleh keindahan, karya seni tidak berhutang pada jiwa penanggap, melainkan pada tenaga kehidupannya sendiri. Namun menurut saya karya seni tidak harus dipandang kaku sebagaimana orang-orang Yunani Kuno menggunakan golden ratio, atau yang disempurnakan menjadi Deret Fibonancci.”
Sang Seniman semakin dongkol, tapi ia merasa tidak pantas untuk marah, ia hanya menggerutu dalam hati, “Penjual Angkring ini terlalu banyak omong, jualan koq bikin pembeli tidak kerasan. Dasar tolol!”
Semua diam, Penjual Angkring merasa bangga merasa dapat mengkuliahi Sang Seniman yang ia yakini masih belajar di Institut Seni Rupa. Ia puas dapat mengeluarkan uneg-uneg yang lama dipendam.
“Habis berapa Pak?” tanya Sang Seniman yang sudah tidak kerasan, lebih baik ia kena hujan dari pada kena kritik. Lalu ia menghitung apa yang dimakan.
“Tiga ribu lima ratus,” Penjual Angkringan cekatan dalam menghitung dagangan, “Tidak ngobrol-ngobrol lagi?” Ia takut kehilangan pendengar.
“Ngutang dulu ya...,” Sang Seniman ngacir.
Penjual Angkringan tetap ikhlas meski belum dibayar, toh besok ia dapat datang lagi untuk mendengarkan ceramahnya. []

Comments
Post a Comment